Tampilkan postingan dengan label Tafsir Imam Syafi'i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Imam Syafi'i. Tampilkan semua postingan

Faidah Surat al Fatihah (2) | Tafsir Imam Syafi'i

Faidah Surat al Fatihah (2) | Tafsir Imam Syafi'i

فائدة:
قال الشَّافِعِي رحمه الله: وقول أمين يدل على أنه لا بأس أن يسأل العبد ربه في الصلاة كلها، في الدين والدنيا مع ما يدل من السنن على ذلك. ولو قال مع آمين رب العالين وغير ذلك من ذكر اللَّه كان حسناً لا يقطع الصلاة شيء من ذكر اللَّه.
Tambahan:
Telah berkata asy Syafi’i rahimahullah: Dalam pengucapan Amiin, menunjukkan bahwasannya tidak mengapa seseorang hamba itu meminta/berdoa kepada Robbnya ketika sedang sholat secara keseluruhan, baik berdoa dalam perkara agama dan dunia. Dan bersamaan dengan itu, hal itu menunjukkan bahwasannya tindakan demikian termasuk sunnah. Walaupun dia mengatakan dengan aamiin robbul alamin atau yang selainnya dari bentuk-bentuk berdzikir kepada Allah, perbuatan ini adalah baik dan tidaklah sholat itu terputus dari seseuatu dikarenakan berdzikir kepada Allah.

وجاء في الأم (أيضاً) : باب (الجهر بأمين)
قال الربيع: سألت الشَّافِعِي عن الإمام إذا قال: (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) الآية، هل يرفع صوته بآمين؛ قال: نعم، ويرفع بها من خلفه أصواتهم. فقلت: وما الحجة فيما قلت من هذا؟
Dan telah datang dari kitab al umm juga: pada Bab Menegeraskan bacaan Aamiin.
Berkata ar Robi’: aku bertanya kepada asy Syafi’i tentang imam jika ia mengucapkan (Ghoiril maghdzubi alaihim wa laadzhooliin), apakah dia harus mengeraskan suaranya dengan aamiin? Dia menjawab: Ya, dia mengeraskan suaranya dan orang yang dibelakangnya (makmum) dengan suaranya masing-masing. Kemudian aku bertanya: Apa hujjahmu/landasan pada pendapatmu dalam permasalah ini?

فقال: أخبرنا مالك، عن ابن شهاب، عن ابن المسيب، وأبي سلمة بن عبد الرحمن: أنهما أخبراه، عن أبي هريرة - رضي الله عنه -: أن رسول اللَّه - صلى الله عليه وسلم - قال: "إذا أمن الإمام فأمِّنوا، فإنه من وافق تأمينُه تأمين الملائكة غُفِر له ما تقدم من ذنبه" الحديث.
قال ابن شهاب: إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يقول: "أمين".
Maka dia menjawab: telah mengabarkan kepada kami Malik, dari ibnu Syihab dan Abu Salamah bin Abdirrohman, bahwasannya keduanya telah mengabarkan, dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu: Bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika imam (minta) di-amini maka amini-lah oleh kalian, karena sesungguhnya seseorang yang mengucapkannya bertepatan (sesuai) dengan ucapan malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” al Hadits.
Berkata ibnu Syihab: Bahwasannya dahulu nabi shalallahu alaihi wa sallam juga mengucapkan aamiin.

قال الشَّافِعِي: قول رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: "إذا أمن الإمام فأمِّنوا" الحديث، دلالة على أنه أمر الإمام بأن يجهر بأمين؛ لأن من خلفه لا يعرف وقت تأمينه إلا بأن يسمع تأمينه، - أي: تأمين الإمام -.
Berkata asy Syafi’i rahimahullah: Ucapan rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “Ketika imam (minta) di-amini maka amini-lah oleh kalian,” al Hadits, adalah dalil bahwasannya beliau memerintahkan imam untuk mengeraskan bacaan amiin. Dikarenakan orang yang dibelakangnnya tidak akan tahu waktu untuk mengucapkan amiin, kecuali dengan mendengarkan dari amiin-nya (imam).

قال الشَّافِعِي: ولو لم يكن عندنا وعندكم - أي: أهل العراق - علم إلا هذا الحديث الذي ذكرنا عن مالك، انبغى أن نستدل بأن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يجهر بأمين، وأنه أمر الإمام أن يجهر بها، فكيف ولم يزل أهل العلم عليه.
Berkata asy Syafi’i rahimahullah: Walaupun tidak sama ilmu pada sisi kami dengan kalian (penduduk Iraq), kecuali hadits ini yang kami sebutkan dari Malik, yang pantas kami jadikan dalil bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dahulu mengerasakan bacaan amiin. Dan bahwasannya belia memerintahkan imam untuk mengeraskannya juga. Maka bagaimana mungkin ahlul ilmi luput/salah darinya.

وروى وائل بن حُجر أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يقول: "أمين" يجهر بها صوته، ويحكي مطهُ إياها. وكان أبو هريرة - رضي الله عنه - يقول للإمام: لا تسبقني بآمين، وكان يُؤذنَ له.
Wail bin Hujr meriwayatkan, bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dahulu mengucapkan: Amiin. Dengan beliau mengeraskan suaranya. Dia juga menceritakan: Dan dahulu Abu Huroiroh rodhiallahu anhu mengatakan kepada imam: Janganlah kalian mendahuluiku dengan amiin, karena (bacaan amiin) untuk diperdengarkan.

قال الشَّافِعِي رحمه الله: أخبرنا مسلم بن خالد، عن ابن جريج، عن عطاء قال: كنت أسمع الأئمة - ابن الزبير ومن بعده رضي اللَّه عنهم - يقولون آمين، ومن خلفهم: آمين حتى إن للمسجد لَلَجَّة.
Berkata asy Syafi’i rahimahullah: telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Kholid, dari ibnu Juroij, dari Atho’ dia berkata: Dahulu aku mendengar para imam-imam (ibnu Zubair dan orang yang setelahnya rodhiallahu anhum) bahwasannya mereka mengucapkan aamiin. Dan orang yang dibelakangnya (makmum): aamiin sampai masjid terasa gaduh.

مختصر المزني: باب (صفه الصلاة)
قال الشَّافِعِي رحمه الله:. . . فإذا قال - الإمام -: (وَلَا الضآِلينَ) ، قال: "آمين"، فيرفع بها صوته ليقتدي به من خلفه، لقول النبي - صلى الله عليه وسلم -: "إذا أمن الإمام فأمِّنوا" الحديث.
وبالدلالة عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أنه بالجهر بها، وأمر الإمام الجهر بها، وليسمع من خلفه أنفسهم - أي: بقول آمين -.
Dalam kitab Mukhtashor al Muzaniy: Bab Shifat Sholat.
Berkata asy Syafi’i rahimahullah: . . . . . jika imam membaca: (Wa laadzhooliin) dia juga membaca aamiin. Dengan dia mengeraskan suaranya untuk diperdengarkan kepada orang yang dibelakangnya. Berdasarkan sabda nabi shalallahu alaihi wa sallam: “Ketika imam (minta) di-amini maka amini-lah oleh kalian,” al Hadits,
Hal ini sebagai dalil dari rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bahwasannya beliau mengeraskannya (amiin), dan memerintakan imam untuk mengeraskan bacaannya juga. Karena untuk diikuti orang yang dibelakangnya masing-masing dengan mengucapkan aamiin.

(selesai)

Faidah Surat al Fatihah (1) | Tafsir Imam Syafi'i

Faidah Surat al Fatihah (1) | Tafsir Imam Syafi'i

ذكر فوائد في (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)
Faidah-faidah Bacaan Basmalah

الأولى: قال ابن خالويه: اعلم أن (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) آية من سورة الحمد، وآية من أوائل كل سورة في مذهب الشَّافِعِي، وليست آية في كل ذلك عند مالك، وعند الباقين هي آية من أول أم الكتاب، وليست آية في غير ذلك وقد ذكرنا - والكلام لابن خالويه - الاحتجاج في ذلك في كتاب شرح أسماء الله جل وعز. فأما القراء السبعة فيثبتون (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) الآية، في أول كل سورة إلا في براءة، ما خلا أبا عمرو وحمزة فإنهما كانا لا يفصلان بين السورتين ب "بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) .
Pertama: Berkata ibnu Kholawaih: Ketahuilah bahwasannya (bismillahir rohmanir rohim) termasuk ayat dari surat al hamdu (al Fatihah). Dan ayat dari setiap awal surat menurut madzhad asy Syafi’i. Dan ia bukan termasuk ayat pada setiap surat menurut pendapatnya Malik. Dan menurut yang lainnya bacaan basmalah adalah ayat dari awal surat ummul kitab, bukan ayat dari surat selainnya. Dan akan kami sebutkan -perkataannya ibnu Kholawiah- berhujjah dengan pendapat itu pada kitab syarah asma’illah jalla wa azza: Adapun pembaca yang tujuh, mereka menetapkan (bismillahir rohmanir rohim) pada awal setiap surat kecuali surat baro’ah (surat at Taubah), yang dan dipegangi oleh Abu Amr dan Hamzah, bahwasannya mereka berdua dahulu tidaklah memisahkan diantara dua surat dengan bacaan (bismillahir rohmanir rohim).

حدثني أبو سعيد الحافظ قال: حدثني أبو بكر النيسابوري قال: سمعت الربيع يقول: سمعت الشَّافِعِي يقول: أول الحمد: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) الآية. وأول البقرة: (الم) الآية.
Telah mengabarkan kepadaku Abu Sa’id al Hafidz, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar an Naisaburiy dia berkata, aku telah mendengar ar Robi berkata: aku telah mendengar asy Syafi’i mengatakan: Awal dari al hamdu (al Fatihah) adalah (bismillahir rohmanir rohim) dan awal dari surat al Baqoroh adalah (Alif Lam Mim).

وكل ما ذكرت - والكلام: لابن خالويه - من اختلاف العلماء والقراءة فقد رويت عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، والذي صح عندي فمذهب الشَّافِعِي رحمه اللَّه، وإليه أذهب.
Dan semua yang telah saya (penulis) sebutkan di atas -dan perkataannya ibnu Kholawaih- termasuk perbedaan (pendapat) di kalangan ulama. Dan bacaan diatas sungguh telah diriwayatkan dari rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Dan yang shohih menurutku adalah pendapat madzhabnya asy Syafi’i, dan madzhab inilah yang aku pegangi.

الثانية: إن سأل سائل فقال: لم كُسرت الباء في: (بِسْمِ اللَّهِ) ؟ الآية.
فالجواب في ذلك: أنهم لما وجدوا الباء حرفاً واحداً، وعملها الجر، ألزموها حركة عملها.
Kedua: Jika seseorang bertanya: Mengapa huruf ba’ dikasroh pada (bismillah)?
Maka jawabannya: Bahwasannya mereka tatkala mendapatkan huruf ba’ yang bersendirian, maka mereka mengamalkannya sebagai huruf jar. Mereka menetapkan harokat ‘amilnya.

الثالثة: وقال الأزهري: (والباء في قوله: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) . معناها الابتداء، أي: أبتدئ باسم اللَّه. ولم يحتج إلى ذكر (بدأت) ، لأن الحال أنبأت أنك مبتدئ.
Ketiga: Berkata al Azhariy: Huruf ba’ pada (bismillahir rohmanir rohim) maknanya adalah memulai. Maksudnya: aku memulai dengan nama Allah. Dan tidak harus dengan sebutan aku memulai, karena keadaannya aku mengabarkan bahwasannya engkau telah memulai.

قول: (أمين) بعد قوده تعالى: (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ)
اثم: باب (التأمين عند الفراغ من قراءة أم القرآن)
Ucapan (Amiin) setelah firman Allah ta’ala: (Ghoiril maghdzubi alaihim wa laadzhooliin).
Bab (Mengucapkan amiin setelah selesai dari bacaan ummul qur’an).

أخبرنا الربيع قال: أخبرنا الشَّافِعِي قال: أخبرنا مالك، عن ابن شهاب، عن سعيد بن المسيب. وأبي سلمة بن عبد الرحمن أنهما أخبراه، عن أبي هريرة - رضي الله عنه -: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: "إذا أمن الإمام فأمنوا، فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه" الحديث.
قال ابن شهاب: وكان النبي - صلى الله عليه وسلم - يقول: "آمين،.
Telah mengabarkan kepada kami ar Robi’, telah mengabarkan kepada kami Asy Syafi’i, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari ibnu Syihab, dari Sa’id bin al Musayyab dan Abu Salamah bin Abdirrohman, bahwasannya keduanya telah mengabarkan kepadaku, dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu: Bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika imam (minta) di-amini maka amini-lah, karena sesungguhnya seseorang yang mengucapkannya bertepatan (sesuai) dengan ucapan malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” al Hadits.
Berkata ibnu Syihab: Dahulu nabi shalallahu alaihi wa sallam juga mengucapkan aamiin.

أخبرنا الربيع قال: أخبرنا الشَّافِعِي قال: أخبرنا مالك قال: أخبرنا سُمَية (مولى أبي بكر) عن أبي صالح السمان، عن أبي هريرة - رضي الله عنه -: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: إذا قال الإمام: (غَيرِ المغضُوبِ عَلَيهِم وَلَا الضآِلين)، فقولوا: آمين، فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه" الحديث.
Telah mengabarkan kepada kami ar Robi’, telah mengabarkan kepada kami Asy Syafi’i, telah mengabarkan kepada kami Malik, telah mengabarkan kepada kami Sumayyah (Maula Abu Bakar) dari Abu Sholih as Samman, dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu: Bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jika imam berkata (Ghoiril maghdzubi alaihim wa laadzhooliin), maka katakanlah: Aamiin. Karena sesungguhnya seseorang yang mengucapkannya bertepatan (sesuai) dengan ucapan malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” Al hadits.
                                                          
أخبرنا الربيع قال: أخبرنا الشَّافِعِي قال: أخبرنا مالك، عن أبي الزناد، عن الأعرج، عن أبي هريرة - رضي الله عنه -: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: "إذا قال أحدكم: آمين، وقالت الملائكة في السماء: أمين، فوافقت إحداهما الأخرى، غَفَرَ اللَّه له ما تقدم من ذنبه" الحديث.
Telah mengabarkan kepada kami ar Robi’, telah mengabarkan kepada kami asy Syafi’i, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Abu az Zinnadm dari al A’roj, dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu: Bahwasannya rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah satu diantara kalian mengucapkan: Aamiin. Maka malaikat di langit berkata: Aamin. Jika bertepatan salah satu dengan yang lainnya. Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.” Al Hadits.

قال الشَّافِعِي رحمه الله: فإذا فرغ الإمام من قراءة أمّ القرآن، قال: آمين. ورفع بها صوته، ليقتدي به من كان خلفه، فإذا قالها قالوها وأسمعوا أنفسهم. و أحب أن بجهروا بها، فإن فعلوا فلا شيء عليهم، وإن تركها الإمام، قالها من خلفه، وأسمعه، لعله يَذكُر فيقولها، ولا يتركونها لتركه.
Telah berkata asy Syafi’i rahimahullah: Jika imam telah selesai membaca dari bacaan ummul qur’an, dia mengatakan: aamiin. Maka angkatlah (keraskanlah) suaranya, agar diikuti (makmum) yang dibelakangnya. Jika dia (imam) dan makmum mengatakannya dan memperdengarkannya di dalam hati mereka saja. Maka, aku tidak menyukai untuk mereka mengeraskannya. Jika mereka melakukannya maka mengapa atas mereka. Jika imam meninggalkannya, maka makmum dibelakangnya yang mengucapkan dan memperdengarkannya. Semoga saja dengan mereka mengingatkan dia (imam) mengucapkannya. Dan mereka (makmum) meninggalkannya karena imam melewatkannya.

(bersambung, insya Allah)