Tampilkan postingan dengan label Tafsir Ibnu Katsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Ibnu Katsir. Tampilkan semua postingan

Tafsir Surat Muawwidzatain (3) | Tafsir Ibnu Katsir


طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَسَارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ بِهِمَا فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ .
Dari jalan lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yasar, telah mengabarkan kepada kami Abdurrohman, telah mengabarkan kepada kami Muawiyah, dari Al Ala’ bin Al Harits, dari Makhul, dari Uqbah bin Amir: Bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah membaca dua surat tersebut pada waktu sholat subuh.

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ أَسْلَمَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: اتَّبَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِبٌ، فَوَضَعْتُ يَدَيْ عَلَى قَدَمِهِ فَقُلْتُ: أَقْرِئْنِي سُورَةَ هُودٍ أَوْ سُورَةَ يُوسُفَ. فَقَالَ: "لَنْ تَقْرَأَ شَيْئًا أَنْفَعَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَق " .
Dari jalan lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, telah mengabarkan kepada kami Al Laits, dari Yazid bin Habib, dari Abu Imron Aslam, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: Aku mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam keadaan dia sedang berkendara, kemudian aku meletakkan tanganku di atas kakinya. Kemudian aku berkata: Tolong bacakanlah kepadaku surat Hud atau surat Yusuf. Maka beliau menjawab: Aku tidak akan menbacakanmu sesuatu yang lebih bermanfaat disisi Allah, kecuali {Qul a’udzu birobbil falaq}.

حَدِيثٌ آخَرُ: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَائِشٍ الْجُهَنِيِّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: "يَا ابْنَ عَائِشٍ، أَلَا أَدُلُّكَ -أَوْ: أَلَا أُخْبِرُكَ -بِأَفْضَلِ مَا يَتَعَوَّذُ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ؟ ". قَالَ: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَق " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " هَاتَانِ السُّورَتَانِ".
Pada hadits yang lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Kholid, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Al Walid, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Amr Al Auzai, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Muhammad bin Ibrohim bin Al Harits, dari Abu Abdillah, dari Ibnu A’isy Al Juhaniy beliau berkata: Bahwasannya nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: “Wahai A’isy, maukah engkau aku tunjukkan/aku beri tahu, sesuatu yang paling utama dari orang-orang yang meminta perlindungan?” aku menjawab: Tentu saja aku mau, wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda: “{Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas} inilah dua surat yang aku maksud.”

فَهَذِهِ طُرُقٌ عَنْ عُقْبَةَ كَالْمُتَوَاتِرَةِ عَنْهُ، تُفِيدُ الْقَطْعَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ فِي الْحَدِيثِ.
Pada riwayat ini banyak jalan dari Uqbah, dan riwayat ini mutawatir darinya. Jalan-jalan (sanad) riwayat ini memberikan tambahan (penguat) pada hadits yang terputus yang banyak terjadi pada muhaqqiqin pada sebuah hadits.

وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي رِوَايَةِ صُدَيّ بْنِ عَجْلَانَ، وفَرْوَةَ بْنِ مُجَاهد، عَنْهُ: "أَلَا أُعَلِّمُكَ ثلاثَ سُوَر لِمَ يَنْزِلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهُنَّ؟ " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ".
Dan telah lalu, pada riwayat Shudai bin Ajlan dan Farwah bin Mujahid disebutkan: “Maukah engkau aku ajari tiga surat, yang tidak turun (ada) pada kitab Taurot, tidak pula kitab Injil dan tidak pada kitab Zabur, dan juga tidak pula pada al Qur’an yang serupa dengannya? Yaitu {Qul huwaallahu ahad}, {Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas}.

حَدِيثٌ آخَرُ: قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في سَفَرٍ، وَالنَّاسُ يَعْتَقِبُونَ، وَفِي الظَّهْرِ قِلَّةٌ، فَحَانَتْ نزلَة رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَزْلَتِي، فَلَحِقَنِي فَضَرَبَ مِنْ بَعْدِي مَنْكِبِيَّ، فَقَالَ: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ "، فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأْتُهَا مَعَهُ، ثُمَّ قَالَ: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ "، فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأْتُهَا مَعَهُ، فقال: "إذا صليت فاقرأ بهما" .
Pada hadits yang lain, Imam Ahmad meriwayatkan: telah mengabarkan kepada kami Ismail, telah mengabarkan kepada kami Al Juroiriy, dari Abul Ala’ beliau berkata, telah berkata seseorang: dahulu kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam sebuah safar dan orang-orang pada mengikutinya. Pada saat dzhuhur hampir tiba,  tiba-tiba Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terkena penyakit influenza, dan akupun juga terkena penyakit tersebut. Lalu aku mendekatinya (nabi), kemudian nabi menepuk bagian belakang kedua pundakku. Dan berkata: {Qul a’udzu birobbil falaq}. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membacanya dan aku juga membaca bersamanya. Kemudian beliau berkata lagi: {Qul a’udzu birobbin nas}. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membacanya dan aku juga membaca bersamanya. Kemudian bersabda: “Jika engkau hendak menunaikan sholat, bacalah kedua surat tadi”.

الظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Dari yang nampak jelas dari hadits di atas, laki-laki tersebut adalah Uqbah bin Amir. Wallahu a’lam.

وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ، بِهِ .
An Nasa’i meriwayatkannya dari Yaqub bin Ibrohim, dari Ibnu Ulayyah.

حَدِيثٌ آخَرُ: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدٍ، حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسْلَمِيِّ -هُوَ ابْنُ أُنَيْسٍ-: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ ثُمَّ قَالَ: "قُلْ". فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ، ثُمَّ قَالَ لِي: "قُلْ". قُلْتُ: " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ " ثُمَّ قَالَ لِي: "قُلْ". قُلْتُ: " أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ " حَتَّى فَرَغْتُ مِنْهَا، ثُمَّ قَالَ لِي: "قُلْ". قُلْتُ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " حَتَّى فَرَغْتُ مِنْهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَكَذَا فَتَعَوَذْ مَا تعوذَ الْمُتَعَوِّذُونَ بِمِثْلِهِنَّ قَطُّ" .
Pada hadits lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dari Abdirrohman bin Sa’id, telah mengabarkan kepadaku Yazid bin Ruman, dari Uqbah bin Amir, dari Abdillah Al Aslamiy -dia itu Ibnu Unais-: bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam meletakkan tangannya di atas dadaku. Kemudian berkata: “Katakanlah!”, dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Kemudian berkata  lagi kepadaku: “Katakanlah!”. Maka aku mengatakan: Qul huwaallahu ahad. Kemudian berkata  lagi kepadaku: “Katakanlah!”. Maka aku mengatakan: Qul a’udzu birobbil falaq min syarril maqolaq”. Sampai aku menyelesaikan surat tersebut. Kemudian berkata  lagi kepadaku: “Katakanlah!”. Maka aku mengatakan: Qul a’udzu birobbin nas. Sampai aku menyelesaikan surat tersebut. Kemudian beliau bersabda: Demikianlah, maka mintalah perlindungan dari apa-apa yang orang meminta perlindungan semisal dengannya.

حَدِيثٌ آخَرُ: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ أَبُو حَفْصٍ، حَدَّثَنَا بَدَل، حَدَّثَنَا شَدَّادُ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو طَلْحَةَ، عَنْ سَعِيدٍ الجُرَيري، حَدَّثَنَا أَبُو نَضْرة، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقْرَأْ يَا جَابِرُ". قُلْتُ: وَمَا أَقْرَأُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؟ قَالَ: "اقْرَأْ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس ". فَقَرَأْتُهُمَا، فَقَالَ: "اقْرَأْ بِهِمَا، وَلَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا".
Pada hadits lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Amr bin Ali Abu Hafsh, telah mengabarkan kepada kami Badal, telah mengabarkan kepada kami Syaddad bin Sa’id Abu Tholhah, dari Sa’id Al Juroiriy, telah mengabarkan kepada kami Abu Nadzhroh, dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku: “Bacalah wahai Jabir!” maka aku menjawab: Apa yang aku baca?” maka beliau bersabda: Bacalah {Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas}. Maka aku membaca kedua surat tersebut. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya: Bacalah kedua surat tadi, dan jangan engkau membaca selain dari keduanya.”

وَتَقَدَّمَ حَدِيثُ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم كان يَقْرَأُ بِهِنَّ، وَيَنْفُثُ فِي كَفَّيْهِ، وَيَمْسَحُ بِهِمَا رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ، وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ.
Dan telah lalu hadits dari Aisyah, bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dahulu pernah membaca dua surat tersebut, lalu meniupkannya kepada kedua telapak tangan, kemudian mengusapkan kedua tangannya ke kepala dan wajah beliau, dan seluruh badan beliau.

وَقَالَ الْإِمَامُ مَالِكٌ: عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَة، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ عَلَيْهِ، رَجَاءَ بَرَكَتِهَا.
Imam Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah: bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dahulu jika sedang sakit, beliau membacakan untuk dirinya sendiri dengan surat Al Muawwidzatain, lalu meniupkannya. Ketika sakitnya bertambah parah, maka aku yang membacakannya, dan aku mengusap dengan tangannya, untuk bertabaruk padanya.

وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُوسُفَ، وَمُسْلِمٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى، وَأَبُو دَاوُدَ عَنِ الْقَعْنَبِيِّ، وَالنَّسَائِيُّ عَنْ قُتَيْبَةَ -وَمِنْ حَدِيثِ ابْنِ الْقَاسِمِ، وَعِيسَى بْنِ يُونُسَ -وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ مَعْنٍ وَبِشْرِ بْنِ عُمَر، ثَمَانِيَتُهُمْ عَنْ مَالِكٍ، بِهِ.
Hadits di atas Al Bukhoriy meriwayatkannya dari Abdullah bin Yusuf, dan Muslim meriwayatkannya dari Yahya bin Yahya, dan Abu Dawud meriwayatkannya dari Al Qo’nabiy, dan An Nasa’i meriwayatkannya dari Qutaibah dan dari haditsnya Ibnul Qosim dan Isa bin Yunus. Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari haditsnya Ma’nin dan Bisyr bin Umar. Kedelapan riwayat di atas dari Malik.

وَتَقَدَّمَ فِي آخِرِ سُورَةِ: " ن " مِنْ حَدِيثِ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَعْيُنِ الْجَانِّ وَعَيْنِ الْإِنْسَانِ، فَلَمَّا نَزَلَتِ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَ بِهِمَا، وَتَرَكَ مَا سِوَاهُمَا. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dan telah lalu, pada akhir surat Nun, dari haditsnya Abu Nadzhroh, dari Abu Sa’id: bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dahulu berta’awudz dari penyakit a’innya jin dan penyakit a’innya manusia. Ketika turun surat muawwidzatain, maka nabi menggunakannya, dan meninggalkan (doa) yang sebelumnya. Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah. At Tirmidzi berkomentar: Hadits ini hadits hasan.

(selesai)

Tafsir Surat Muawwidzatain (2) | Tafsir Ibnu Katsir


طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ، عَنِ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَقُودُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَقب مِنْ تِلْكَ النِّقَابِ، إِذْ قَالَ لِي: "يَا عُقْبَةُ، أَلَا تَركب؟ ". قَالَ: فَأجْلَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَرْكَبَ مَرْكَبَهُ. ثُمَّ قَالَ: "يَا عُقيب، أَلَّا تَرْكَبُ؟ ". قَالَ فَأَشْفَقْتُ أَنْ تَكُونَ مَعْصِيَةً، قَالَ: فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبْتُ هُنَيْهَةً، ثُمَّ رَكِبَ، ثُمَّ قَالَ: "يَا عُقَيْبُ، أَلَا أُعلمك سُورَتَيْنِ مِنْ خَيْرِ سُورَتَيْنِ قَرَأَ بِهِمَا النَّاسُ؟ ". قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَأَقْرَأَنِي: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَتَقَدَّمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ بِهِمَا، ثُمَّ مَرَّ بِي فَقَالَ: "كَيْفَ رَأَيْتَ يَا عُقَيْبُ اقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَكُلَّمَا قُمْتَ".
Dari jalan yang lain, Imam Ahmad meriwayatkan, telah mengabarkan kepada kami Al Walid bin Muslim, telah mengabarkan kepada kami telah mengabarkan kepada kami Jabir, dari Al Qosim Abu Abdirrohman, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: Pada suatu saat aku berjalan bersama nabi shalallahu alaihi wasallam pada jalan yang berbukit dari bukit itu. Tiba-tiba beliau berkata, “Wahai Uqbah, mengapa engkau tidak berkendara?” Maka aku menawarkan kendaraan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berkendara sebuah kendaraan, kemudian beliau berkata, “Ya Uqoib, mengapa engkau tidak berkendara?” maka aku khawatir memaksiati nabi, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun dan aku menaikinya sebentar saja, kemudian beliau menaikinya lagi, lalu bersabda, “Wahai Uqoib, maukah engkau aku ajari dua surat yang terbaik dari dua surat yang dibaca oleh manusia?” maka aku menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah.” Kemudian beliau membacakanku dua surat: {Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas}. Kemudian sholat ditegakkan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju (mengimami) dan membaca dua surat tersebut. Kemudian beliau melewatiku dan berkata, “Bagaimana ya Uqoib? Bacalah dua surat tadi setiap engkau hendak tidur dan ketika engkau bangun.”

وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، كِلَاهُمَا عَنِ ابْنِ جَابِرٍ، به .
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh An Nasa’i dari Al Walid bin Muslim dan Abdullah bin Al Mubarok, keduanya dari Ibnu Jabir.

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ أَيْضًا، مِنْ حَدِيثِ ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عُقْبَةَ، بِهِ .
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An Nasa’i dari haditsnya Ibnu Wahab, dari Mu’awiyah bin Sholih, dari Al Ala’ bin Al Harits, dari Al Qosim bin Abdirrohman, dari Uqbah.

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عبد الرحمن، حدثنا سعيد بن أبي أيوب، حدثني يزيد ابن عَبْدِ الْعَزِيزِ الرُّعَيْنِيُّ وَأَبُو مَرْحُومٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ.
Dari jalan lain, Imam Ahmad berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdirrohman, telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub, telah mengabarkan kepadaku Yazid bin Abdilaziz Ar Ruainiy dan Abu Marhum, dari Yazid bin Muhammad Al Qurosiy, dari Ali bin Robah, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkanku untuk membaca surat muawwidzatain setiap diakhir sholat.

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، مِنْ طُرُقٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ . وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: غَرِيبٌ.
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i dari banyak jalan, dari Ali bin Abi Robah. At Tirmidzi mengomentari hadits ini: hadits ini ghorib (asing).

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، عَنْ مشَرح بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقْرَأْ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَإِنَّكَ لَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا". تَفَرَّدَ بِهِ أَحْمَدُ .
Dari jalan lain, Imam Ahmad berkata: telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ishaq, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahiah, dari Masyroh bin Ha’an, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: Bacalah surat muawwidzatai, karena tidak ada surat yang semisal dengannya.” Imam Ahmad bersendiri meriwayatkan hadits ini.

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْح، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، حَدَّثَنَا بَحير بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدان، عَنْ جُبَير بْنِ نُفَير، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُهْدِيَتْ لَهُ بَغْلَةٌ شَهْبَاءُ، فَرَكِبَهَا فَأَخَذَ عُقْبَةُ يَقُودُهَا لَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ". فَأَعَادَهَا لَهُ حَتَّى قَرَأَهَا، فَعَرَفَ أَنِّي لَمْ أَفْرَحْ بِهَا جِدًّا، فَقَالَ: "لَعَلَّكَ تَهَاوَنْتَ بِهَا؟ فَمَا قُمْتَ تَصِلِي بِشَيْءٍ مِثْلِهَا".
Dari jalan lain, Imam Ahmad berkata: telah mengabarkan kepada kami Haiwah bin Syuraih, telah mengabarkan kepada kami Baqiyyah, telah mengabarkan kepada kami bahir bin Sa’ad, dari Kholid bin Ma’dan, dari Jubair bin Nufair, dari Uqbah bin Amir bahwasannya beliau berkata: sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menghadiahkan kepadaku seekor bighol betina miliknya yang berwarna keabu-abuan. Kemudian beliau mengendarainya dan membonceng Uqbah untuk mendaki (sebuah bukit). Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah {Qul a’udzu birobbil falaq}. Beliau mengulangi-mengulangi dalam membacanya. Dan beliau tahu sesungguhnya aku tidak keberatan sama sekali dengan hal tersebut. Lalu beliau bersabda: “Semoga engkau bersungguh-sungguh dengannya (surat itu), dan karena tidaklah engkau mendirikan sholat dengan membaca surat yang semisal dengannya.”

وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ بَقِيَّةَ، بِهِ. وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَذَكَرَ نَحْوَهُ.
Hadits di atas diriwayatkan oleh An Nasa’i dari Amr bin Utsman, dari Baqiyyah. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh An Nasa’i dari haditsnya Ats Tsaur, dari Muawiyah bin Sholih, dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari bapaknya, dari Uqbah bin Amir: bahwasannya beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang dua surat muawwidzatain. Kemudian beliau (An Nasa’i) menyebutkan hadits yang serupa di atas.

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ، سَمِعْتُ النُّعْمَانَ، عَنْ زِيَادٍ أَبِي الْأَسَدِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَعَوَّذُوا بِمِثْلِ هَذَيْنَ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " .
Dari jalan lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la, telah mengabarkan kepada kami Al Mu’tamar, dia berkata aku mendengar dari An Nu’man, dari Ziyad Abul Asad, dari Uqbah bin Amir. Bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia tidaklah (mungkin) mereka berta’awudz (meminta perlindungan) dengan surat yang serupa dengan dua surat ini: yaitu {Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas}.”

طَرِيقٌ أُخْرَى: قَالَ النَّسَائِيُّ: أخبرنا قتيبة، حدثنا الليث، عن أبي عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمُقْبِرِيِّ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "يَا عُقْبَةُ، قُلْ". فَقُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ؟ فَسَكَتَ عَنِّي، ثُمَّ قَالَ: "قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَسَكَتَ عَنِّي، فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ، ارْدُدْهُ عَلَيَّ. فَقَالَ: "يَا عُقْبَةُ، قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يا رسول الله؟ فقال: "" قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ "، فَقَرَأْتُهَا حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى آخِرِهَا، ثُمَّ قَالَ: "قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ "، فَقَرَأْتُهَا حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى آخِرِهَا، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: "مَا سَأَلَ سَائِلٌ بِمِثْلِهِمَا، وَلَا اسْتَعَاذَ مُسْتَعِيذٌ بِمِثْلِهِمَا" .
Dari jalan lain, An Nasa’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, telah mengabarkan kepada kami Al Laits, dari Abu Ajlan, dari Sa’id Al Muqbariy, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: dahulu aku pernah berjalan-jalan bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, beliau berkata : “Wahai Uqbah, katakanlah!” maka aku bertanya, “Apa yang harus aku katakan?” kemudian aku diam. Lalu beliau berkata : “Katakanlah!” maka aku bertanya, “Apa yang harus aku katakan? Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ” kemudian aku diam. Dan aku mengatakan: Ya Allah berkali-kali kepada diriku sendiri. Lalu beliau berkata lagi : “Wahai Uqbah, katakanlah!” maka aku bertanya, “Apa yang harus aku katakan? Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam” beliau bersabda: “{Qul a’udzu birobbil falaq}. Maka aku membacanya sampai akhir surat. Kemudian beliau berkata lagi : “Katakanlah!” maka aku bertanya, “Apa yang harus aku katakan? Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam” beliau bersabda: {Qul a’udzu birobbin nas}.” Maka aku membacanya sampai akhir surat. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang peminta meminta dengan (kalimat/surat seperti ini) yang seperti kedua kalimat ini, dan tidak ada seorang meminta perlindungan dengan sebuah kalimat yang seperti kedua kalimat ini.”

(bersambung, insya Allah)

Tafsir Surat Muawwidzatain (1) | Tafsir Ibnu Katsir



تَفْسِيرُ سُورَتَيِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ
Pendahuluan Tafsir Surat Mu’awwidzatain)

وَهُمَا مُدْنِيَّتَانِ.                        
Dan keduanya adalah ayat Madaniyah (turun di Madinah).

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلة، عَنْ زِرِّ بنُ حُبَيش قَالَ: قُلْتُ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ [كَانَ] لَا يَكْتُبُ الْمُعَوِّذَتَيْنِ فِي مُصْحَفِهِ؟ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَنِي أَنَّ جِبْرِيلَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ لَهُ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " فَقُلْتُهَا، قَالَ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " فَقُلْتُهَا. فَنَحْنُ نَقُولُ مَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Berkata Imam Ahmad: telah mengabarkan kepada kami Affan, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah, telah mengabarkan kepada kami Ashim bin Bahdalah, dari Zir bin Hubaisy dia berkata, aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab: Apakah benar bahwasannya Ibnu Mas’ud dahulu tidak menulis surat muawwidzatain pada mushhafnya? Maka dia menjawab: Aku bersaksi bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengabarkan kepadaku, bahwasannya Jibril alaihis salam berkata kepadanya: {Katakanlah, aku berlindung pada Robb penguasa subuh} maka aku mengucapkannya, kemudia berkata lagi {Katakanlah, aku berlindung pada Robb manusia} maka aku mengucapkannya. Kemudian kami mengucapkan sebagaimana yang nabi shalallahu alaihi wasallam ucapkan.

وَرَوَاهُ أَبُو بَكْرٍ الحُميدي فِي مُسْنَدِهِ، عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، حَدَّثَنَا عَبَدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابة وَعَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ، أَنَّهُمَا سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ قَالَ: سألتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَحُكهما مِنَ الْمُصْحَفِ. فَقَالَ: إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: "قِيلَ لِي: قُلْ، فَقُلْتُ". فَنَحْنُ نَقُولُ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Abu Bakr Al Humaidiy juga meriwayatkan hadits tersebut dalam kitab musnadnya, dari Sufyan bin Uyainah, telah mengabarkan kepada kami Ubadah bin Abi Lubabah dan Ashim bin Bahdalah, bahwasannya keduanya mendengar Zir bin Hubaisy berkata: aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang surat muawwidzatain. Aku berkata: wahai Abul Mundzir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud meragukan kedua surat tersebut apakah keduanya termasuk bagian dari mushhaf (Al Qur’an). Maka dia menjawab: sesungguhnya aku telah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Diajarkan kepadaku: Qul (surat muawwidzatain)” maka aku membacanya.” Maka kami (para sahabat) mengatakan sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam katakan.

وَقَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكيع، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ قَالَ: سألتُ ابنَ مَسْعُودٍ عَنِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ فَقَالَ: سألتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُمَا فَقَالَ: " قِيلَ لِي، فَقُلْتُ لَكُمْ، فَقُولُوا". قَالَ أَبِي: فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَقُولُ .
Berkata Ahmad: telah mengabarkan kepada kami Waki’, telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Ashim, dari Zir beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang surat muawwidzatain. Maka beliau menjawab: aku juga bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Diajarkan kepadaku: Qul (surat muawwidzatain), maka aku mengajarkannya kepada kalian.” Maka kami (para sahabat) membacanya. Berkata bapakku: Nabi shalallahu alaihi wasallam mengajarkannya kepada kami lalu kami (para sahabat) membacanya.

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا عَبدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابة، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيش -وَحَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ زِرٍّ-قَالَ: سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ فَقُلْتُ: أَبَا الْمُنْذِرِ، إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا. فَقَالَ: إِنِّي سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "قِيلَ لِي، فَقُلْتُ". فَنَحْنُ نَقُولُ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Telah berkata Al Bukhoriy: telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdillah, telah mengabarkan kepada kami Sufyan, telah mengabarkan kepada kami Abdah bin Abi Lubabah, dari Zir bin Hubaisy – dan telah mengabarkan kepada kami Ashim dari Zir- beliau berkata: aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang surat muawwidzatain. Aku berkata: wahai Abul Mundzir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud mengatakan demikian dan demikian (mengatakan surat muawwidzatain bukan termasuk dari Al Qur’an). Maka sesungguhnya aku telah kepada nabi  shalallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “(surat tersebut) telah diajarkan kepadaku, dan aku telah membacanya.” Maka kami (para sahabat) mengatakan sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam katakan.

وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْضًا وَالنَّسَائِيُّ، عَنْ قُتَيْبَةَ، عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَبَدَةَ وَعَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، بِهِ .
Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dan An Nasa’i, dari Qutaibah dari Sufyan bin Uyainah, dari Abdah dan Ashim bin Abi Nujud, dari Zir bin Hubaisy, dari Ubay bin Ka’ab.

وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا الْأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الصَّلْت بْنُ بَهرَام، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَحُك المعوذتين من المصحف، ويقول: إنما أَمْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَعَوَّذَ بِهِمَا، وَلَمْ يَكُنْ عَبْدُ اللَّهِ يَقْرَأُ بِهِمَا.
Berkata Al Hafidz Abu Ya’la: telah mengabarkan kepada kami Al Azroq bin Ali, telah mengabarkan kepada kami Hassan bin Ibrohim, telah mengabarkan kepada kami Ash Sholt bin Baharom, dari Ibrohim dari Alqomah beliau berkata: Bahwasannya dahulu Abdullah (bin Mas’ud) meragukan surat muawwidzatain termasuk dari mushhaf al qur’an. Kemudian berkata lagi: karena dahulu rasulullah shalallahu alaihi wa sallam hanya memerintahkannya untuk berlindung padanya. Maka Abdullah tidak membaca kedua surat tersebut.

وَرَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَحُكُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ مِنْ مَصَاحِفِهِ، وَيَقُولُ: إِنَّهُمَا لَيْسَتَا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ -قَالَ الْأَعْمَشُ: وَحَدَّثَنَا عَاصِمٌ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: سَأَلَنَا عَنْهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: "قِيلَ لِي، فَقُلْتُ".
Dan diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dari haditsnya Al A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abdurrohman bin Yazid beliau berkata: dahulu Abdullah (bin Mas’ud) meragukan surat muawwidzatain termasuk dari mushhaf al qur’an, mengatakan: Sesungguhnya kedua surat ini bukan termasuk dari kitabullah (al qur’an). Berkata Al A’masy: telah mengabarkan kepada kami Ashim, dari Zir bin Hubaisy, dari Ubay bin Ka’ab beliau berkata: Aku bertanya kepada rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang kedua surat ini. Maka beliau menjawab: “(surat tersebut) telah diajarkan kepadaku, dan aku telah membacanya.”

وَهَذَا مَشْهُورٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ: أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ لَا يَكْتُبُ الْمُعَوِّذَتَيْنِ فِي مُصْحَفِهِ، فَلَعَلَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُمَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَتَوَاتَرْ عِنْدَهُ، ثُمَّ لَعَلَّهُ قَدْ رَجَعَ عَنْ قَوْلِهِ ذَلِكَ إِلَى قَوْلِ الْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ الصَّحَابَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، كَتَبُوهُمَا فِي الْمَصَاحِفِ الْأَئِمَّةِ، وَنَفَّذُوهَا إِلَى سَائِرِ الْآفَاقِ كَذَلِكَ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ.
Riwayat ini masyhur (terkenal) dikalangan banyak ahlul qurro’ (baca Al Qur’an) dan para fuqoha’ (ahli fiqih). Bahwasannya Ibnu Mas’ud dahulu tidak menulis/memasukkan surat muawwidzatain pada mushhafnya. Mungkin karena beliau tidak mendengarnya dari nabi shalallahu alaihi wa sallam, dan karena tidak ke-mutawatiran riwayatnya. Kemudian beliau (Ibnu Mas’ud) telah ruju’ (meralat) pendapatnya dan kemudian setuju dengan pendapatnya mayoritas para sahabat(surat muawwidzatain termasuk dari surat-surat Al Qur’an) semoga Allah meridhoi mereka semua. Akhirnya mereka (para sahabat) menulis kedua surat ini pada mushhaf-mushhaf umat islam. Dan menerapkan pendapat ini ke seluruh pelosok-pelosok daerah. Segala puji bagi Allah atas segala karunia-Nya.

وَقَدْ قَالَ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ بَيَانٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازم، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُر مِثْلُهُنَّ قَطُّ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ " .
Telah meriwayatkan Imam Muslim dalam kitab shohihnya: telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, telah mengabarkan kepada kami Jarir, dari Bayan, dari Qois bin Abi Hazim, dari Uqbah bin Amir beliau berkata: rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: “Apakah engkau tidak mengetahui tentang ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan pada malam ini, yang tidak ada semisal dengannya? Yaitu surat {Qul a’udzu birobbil falaq} dan {Qul a’udzu birobbin nas}.”

وَرَوَاهُ أَحْمَدُ، وَمُسْلِمٌ أَيْضًا، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، مِنْ حَدِيثِ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ عُقْبَةَ، بِهِ . وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i dari haditsnya Ismail bin Abu Kholid, dari Qois bin Abi Hazim, dari Uqbah. Dan At Tirmidzi mengomentari: Hadits ini hasan shohih.

(bersambung, insya Allah)

Tafsir Surat al Falaq ayat 4-5 | Tafsir Ibnu Katsir


 Tafsir Surat al Falaq ayat 4-5
 
وَقَوْلُهُ: {وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ} قَالَ مُجَاهِدٌ، وَعِكْرِمَةُ، وَالْحُسْنُ، وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ: يَعْنِي: السَّوَاحِرَ -قَالَ مُجَاهِدٌ: إِذَا رَقَيْنَ وَنَفَثْنَ فِي الْعُقْدِ.
Pada firman Allah -ta’ala-: {Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul} Berkata Mujahid, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah dan Adzh Dzhohhak: yakni sihir-sihir. Berkata Mujahid: Sihirnya yang ditulis dan diberi mantra pada sebuah buhul.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَر، عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَقْرَبُ مِنَ الشِّرْكِ مِنْ رُقْيَةِ الْحَيَّةِ وَالْمَجَانِينِ.
Berkata Ibnu Jarir, telah mengabarkan kepada kami, Ibnu Abdil A’la, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Tsaur, dari Ma’mar, dari Ibnu Thowus, dari bapaknya dia berkata: “Tidaklah ada suatu hal yang lebih dekat dari kesyirikan daripada jimat ular dan orang gila.”

وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ: أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اشْتَكَيْتَ يَا مُحَمَّدُ؟ فَقَالَ: "نَعَمْ". فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ أرْقِيك، مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ وعين، الله يشفيك.
Pada sebuah hadis yang lain disebutkan bahwasanya Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata: “Engkau sedang sakit ya Muhammad? maka beliau menjawab, ”Ya”. Maka Jibril berkata, “Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari segala kejelekan orang yang hasad dan ain, semoga Allah menyembuhkanmu.”

وَلَعَلَّ هَذَا كَانَ مِنْ شَكْوَاهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، حِينَ سُحِرَ، ثُمَّ عَافَاهُ اللَّهُ تَعَالَى وَشَفَاهُ، وَرَدَّ كَيْدَ السحرَة الحسَّاد مِنَ الْيَهُودِ فِي رُءُوسِهِمْ، وَجَعَلَ تَدْمِيرَهُمْ فِي تَدْبِيرِهِمْ، وَفَضَحَهُمْ، وَلَكِنْ مَعَ هَذَا لَمْ يُعَاتِبْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مِنَ الدَّهْرِ، بَلْ كَفَى اللَّهُ وَشَفَى وَعَافَى.
Mungkin yang demikian itu akibat keluhan yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika beliau terkena sihir Allah ta'ala dengan segera menyehatkan dan menyembuhkan beliau, serta membalas sihir para penyihir yang hasad dari kalangan Yahudi pada kepala-kepala mereka. Dia jadikan kehancuran mereka melalui perbuatan mereka itu sekaligus mempermalukan mereka. Akan tetapi, dengan kejadian tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak bersikap buruk terhadap orang tersebut pada suatu waktu, tetapi cukuplah Allah sebagai pelindung, penyembuh dan pemberi kesehatan.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّان، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ: سَحَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجلٌ مَنْ الْيَهُودِ، فَاشْتَكَى لِذَلِكَ أَيَّامًا، قَالَ: فَجَاءَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْيَهُودِ سَحَرَكَ، عَقْدَ لَكَ عُقَدًا فِي بِئْرِ كَذَا وَكَذَا، فَأرْسِل إِلَيْهَا مَنْ يَجِيءُ بِهَا. فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فَاسْتَخْرَجَهَا، فَجَاءَ بِهَا فَحَلَّلَهَا قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا نَشط مِنْ عِقَالٍ، فَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِلْيَهُودِيِّ وَلَا رَآهُ فِي وَجْهِهِ قَطُّ حَتَّى مَاتَ.
Berkata Imam Ahmad, telah mengabarkan kepada kami Abu Muawiyah, telah mengabarkan kepada kami Al A’masy, dari Yazid bin Hayyan, dari Zaid bin Arqom beliau berkata: Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam disihir oleh seseorang dari kalangan yahudi, kemudian beliau sakit beberapa hari, kemudian Jibril datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata: “Sesungguhnya seseorang dari kalangan yahudi telah menyihirmu, mengikatmu dengan buhul yang disimpan pada sumur yang letaknya demikian dan demikian. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta tolong seseorang untuk mengambilnya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Ali -semoga allah meridhoinya- untuk keluar mencari, kemudian Ali datang membawanya dan mengurai buhul tersebut. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri seakan telah terlepas dari sebuah belenggu. Dan nabi tidak menyebutkan orang yahudi yang melakukan hal tersebut dan tidaklah nabi shallallahu ala melihatnya sampai meninggal.

وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ عَنْ هَنَّاد، عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ مُحَمَّدِ بْنِ حَازم الضَّرِيرِ.
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh An Nasa’i dari Hannan, dari Abu Muawiyah Muhammad bin Hazim Adz Dzoriri.

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ فِي "كِتَابِ الطِّبِّ" مِنْ صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ يَقُولُ: أَوَّلُ مَنْ حَدَّثَنَا بِهِ ابنُ جُرَيْج، يَقُولُ: حَدَّثَنِي آلُ عُرْوَة، عَنْ عُرْوَةَ، فَسَأَلْتُ هِشَامًا عَنْهُ، فحدثَنا عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُحر، حَتَّى كَانَ يُرَى أَنَّهُ يَأْتِي النِّسَاءَ وَلَا يَأْتِيهِنَّ -قَالَ سُفْيَانُ: وَهَذَا أَشَدُّ مَا يَكُونُ مِنَ السِّحْرِ، إِذَا كَانَ كَذَا -فَقَالَ: "يَا عَائِشَةُ، أَعْلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا استفتيتُه فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيِّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ. قَالَ: وَمَنْ طَبَّه؟ قَالَ: لَبيد بْنُ أَعْصَمَ -رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيق حَليف ليهُودَ، كَانَ مُنَافِقًا-وَقَالَ: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشط ومُشاقة. قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُف طَلْعَة ذَكَرٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَان". قَالَتْ: فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِئْرَ حَتَّى اسْتَخْرَجَهُ فَقَالَ: "هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا، وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعة الحنَّاء، وَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ". قَالَ: فَاسْتَخْرَجَ. قَالَتْ. فَقُلْتُ: أَفَلَا؟ أَيْ: تَنَشَّرْتَ؟ فَقَالَ: "أمَّا اللهُ فَقَدْ شَفَانِي، وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ شَرًّا".
Berkata Al Bukhari dalam kitab nya Ath Thib (Kitab Kesehatan) dalam kitab shahihnya, dari Aisyah -semoga Allah meridhoinya- dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah disihir dimana beliau melihat seakan akan mendatangi beberapa orang istrinya, padahal beliau tidak mendatangi mereka. Sufyan mengatakan: Ini merupakan sihir yang paling parah, jika keadaannya seperti itu. Kemudian beliau bersabda, “Wahai aisyah tahukah engkau bahwa Allah telah mengatakan kepadaku mengenai sesuatu yang dulu engkau pernah meminta fatwa tentangnya, aku telah didatangi oleh dua orang malaikat, lalu salah seorang diantaranya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku, kemudian yang duduk di dekat kepalaku berkata, “Apa yang dialami oleh orang ini?” yang lain menjawab,”Dia terkena sihir” “Lalu siapa yang menyihir? tanyanya lebih lanjut. “Labid bin A’shom, seseorang dari Bani Zuraiq, seorang orang yahudi yang dia itu seorang munafik.” Dia bertanya “Dalam wujud apa sihir itu? dia menjawab “Berwujud sisir rambut dan bekas rontokan rambut.” Lalu dimana semua itu berada? tanya temannya. Dia menjawab “Di kulit mayang kurma jantan di bawah dasar sumur.” Kemudia Aisyah melanjutkan perkataannya: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi sumur itu dan mengeluarkan sihir tersebut, selanjutnya beliau bersabda, ”Wahai Aisyah, inilah sumur yang pernah diperlihatkan kepadaku, seakan-akan airnya celupan pacar dan pohon kurmanya seperti kepala syaithon.” Beliau berkata: “Bentangkanlah (bukhul itu)!” aku berkata: “Apakah tidak apa-apa?” beliau berkata: “Tidak apa-apa, sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku, dan aku tidak suka menyuruh orang berbuat keji pula kepada manusia yang berbuat kejahatan.”

وَأَسْنَدَهُ مِنْ حَدِيثِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ، وَأَبِي ضَمْرة أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ، وَأَبِي أُسَامَةُ، وَيَحْيَى الْقَطَّانِ وَفِيهِ: "قَالَتْ: حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ وَلَمْ يَفْعَلْهُ". وَعِنْدَهُ: "فَأَمَرَ بِالْبِئْرِ فَدُفِنَتْ". وَذَكَرَ أَنَّهُ رَوَاهُ عَنْ هِشَامٍ أَيْضًا ابْنُ أَبِي الزَّناد وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ.
Dan sanad hadits di atas dari Isa bin Yunus, Abu Dzhomroh Anas bin Iyad, Abu Usamah, Yahya Al Qoththon, padanya terdapat: perkataan Aisyah: “Sampai beliau terbayang melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukan apapun.” Dan ada juga riwayat, “Kemudian beliau memerintahkan ke sumur itu dan menggalinya.” Beliau juga menyebutkan riwayat dari Hisyam bin Abi Zannad dan Laits bin Sa’ad.

وَقَدْ رَوَاهُ مُسْلِمٌ، مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ حَمَّادِ بْنِ أُسَامَةَ وَعَبْدِ الله بن نمير. ورواه أحمد، عن عَفَّانَ، عَنْ وُهَيب عَنْ هِشَامٍ، بِهِ.
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim dari haditsnya Abu Usamah Hammad bin Usamah dan Abdullah bin Numair. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Affan dari Wuhaib dari Hisyam, dan seterusnya.

وَرَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ رَبَاحٍ، عَنْ مَعْمَر، عَنْ هشَام، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: لَبِثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ يُرى أَنَّهُ يَأْتِي وَلَا يَأْتِي، فَأَتَاهُ مَلَكَانِ، فَجَلَسَ أحدهما عند رأسه، والآخر عند رجليه، فقال أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: مَا بَالُهُ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ. قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ibrahim bin Khalid bin Robah, dari Ma’mar, dari Hisyam, dari bapaknya, dari Aisyah beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mendiami suatu tempat selama 6 bulan, beliau menyangka bahwasanya beliau mendatanginya padahal tidak, kemudian datang 2 malaikat, salah satunya duduk di kepalanya dan yang lainnya duduk di kedua kakinya. Kemudian berkata salah satu dari yang lain “Apakah dia terkena sihir? Satunya menjawab: “Ya dia terkena sihir” “dan siapa yang menyihir nya?” Labid bin Al A’shom. Kemudian (Imam Ahmad) menyebutkan selengkapnya hadist.

وَقَالَ الْأُسْتَاذُ الْمُفَسِّرُ الثَّعْلَبِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كَانَ غُلَامٌ مِنَ الْيَهُودِ يَخْدِمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فدبَّت إِلَيْهِ الْيَهُودُ، فَلَمْ يَزَالُوا بِهِ حَتَّى أَخَذَ مُشَاطة رَأْسِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِدَّةَ أَسْنَانٍ مِنْ مُشطه، فَأَعْطَاهَا الْيَهُودَ، فَسَحَرُوهُ فِيهَا. وَكَانَ الَّذِي تُوَلَّى ذَلِكَ رَجُلٌ مِنْهُمْ -يُقَالُ لَهُ: لَبِيَدُ بْنُ أَعْصَمَ-ثُمَّ دَسَّهَا فِي بِئْرٍ لِبَنِي زُرَيق، وَيُقَالُ لَهَا: ذَرْوان، فَمَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَثَرَ شَعْرُ رَأْسِهِ، وَلَبِثَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ يُرَى أَنَّهُ يَأْتِي النِّسَاءَ وَلَا يَأْتِيهِنَّ، وَجَعَلَ يَذُوب وَلَا يَدْرِي مَا عَرَاهُ. فَبَيْنَمَا هُوَ نَائِمٌ إِذْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَقَعَد أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيْهِ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِهِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: طُبَ. قَالَ: وَمَا طُبَ؟ قَالَ: سُحِرَ. قَالَ: وَمَنْ سَحَرَهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ الْيَهُودِيُّ. قَالَ: وَبِمَ طَبَه؟ قَالَ: بِمُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ. قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي جُفَ طَلْعَةٍ تَحْتَ رَاعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَان -وَالْجُفُّ: قِشْرُ الطَّلْعِ، وَالرَّاعُوفَةُ: حَجَرٌ فِي أَسْفَلِ الْبِئْرِ نَاتِئٌ يَقُومُ عَلَيْهِ الْمَاتِحُ -فَانْتَبَهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَذْعُورًا، وَقَالَ: "يَا عَائِشَةُ، أَمَا شَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَخْبَرَنِي بِدَائِي؟ ". ثُمَّ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَالزُّبَيْرَ وَعَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ، فَنَزَحُوا مَاءَ الْبِئْرِ كَأَنَّهُ نُقاعة الْحِنَّاءِ، ثُمَّ رَفَعُوا الصَّخْرَةَ، وَأَخْرَجُوا الْجُفَّ، فَإِذَا فِيهِ مُشَاطَةُ رَأْسِهِ وَأَسْنَانٌ مِنْ مُشْطِهِ، وَإِذَا فِيهِ وَتَرٌ مَعْقُودٌ، فِيهِ اثْنَتَا عَشْرَةَ عُقْدَةً مَغْرُوزَةً بِالْإِبَرِ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى السُّورَتَيْنِ، فَجَعَلَ كُلَّمَا قَرَأَ آيَةً انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَوَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِفَّةً حِينَ انْحَلَّتِ الْعُقْدَةُ الْأَخِيرَةُ، فَقَامَ كَأَنَّمَا نَشطَ مِنْ عِقَالٍ، وَجَعَلَ جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، يَقُولُ: بِاسْمِ اللَّهِ أرْقِيك، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ حَاسِدٍ وَعَيْنٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نَأْخُذُ الْخَبِيثَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أما أَنَا فَقَدَ شَفَانِي اللَّهُ، وَأَكْرَهُ أَنْ يُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا".
Dan berkata Al Ustadz Al Mufassir Ats Tsa’labiy berkata dalam tafsirnya, berkata Ibnu Abbas dan Aisyah -semoga Allah meridhoi keduanya- bahwasanya dahulu ada seorang pemuda dari kalangan yahudi dia menkhidmat (melayani) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi dia mendatangi seorang yahudi yang lama kelamaan dia menghilang, dia mengambil rontokan rambut dari kepala Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sisir rambut. Lalu dia memberikannya kepada seorang yahudi, dan mereka menyihir menggunakan rambut dan sisir tersebut. Pemuda tersebut diutus penyihir tersebut –dikatakan namanya Labid bin Al A’shom- untuk menyembunyikan jimat tersebut pada sebuah sumur milik Bani Zuraiq, dan dikatakan miliknya Bani Dzarwan. Akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sakit dalam keadaan dalam keadaan rambut kepalanya terurai dan terbayang bayang mendiami suatu tempat selama 6 bulan dan beliau mendatangi istri-istrinya padahal beliau tidak mendatanginya. Dan beliau membuat gemetar dan beliau tidak dapat mengancingkan kancing bajunya. Tatkala beliau tidur tiba-tiba datanglah 2 malaikat yang salah satu diantara mereka duduk di kepala beliau dan yang lainnya duduk di kedua kaki beliau. Maka berkata salah satu diantara keduanya yang duduk di kedua kakinya kepada yang duduk di atas kepalanya, “Apakah dia terkena sihir” “ya, dia terkena sihir” kemudian dia bertanya lagi “Siapakah yang menyihir?” “Labid bin A’shom Al Yahudi” “Dengan apa dia menyihirnya?” “dengan rontokan rambut dengan sisir” “dimana letak jimatnya?” ”berada di dalam rongga yang berada di pinggiran sumur dan dibungkus dengan mayang pohon kurma yang tua. Itulah yang menyebabkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketakutan. Kemudian beliau bersabda, ”Wahai Aisyah, apakah engkau mengetahui bahwasannya Allah-lah mengirim sakitku ini?” kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutus Ali, Zubair dan Ammar bin Yasar, lalu mereka menguras air sumurnya, seakan akan akan sumur itu menjadi kering kerontang, kemudian mereka menaikan batu besar dan lalu mengeluarkan jimat, yang di dalamnya terdapat rontokan rambut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan di dalamnya juga terdapat buntalan tali yang diikat, di dalamnya juga terdapat 12 tali yang disimpul dengan jarum. Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan dua surat dan menjadikan kedua surat tersebut dibaca untuk melepaskan ikatan simpul (jimat) tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendapati jimat ketika sudah lepas dari ikatannya yang terakhir. Sehingga beliau shallallahu alaihi wa sallam berdiri seakan-akan terlepas dari suatu belenggu. Lalu datanglah Jibril alaihis salam dan berkata kepada beliau, “Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu, dari setiap setiap apa-apa yang mengganggumu, dan gangguan dari orang yang hasad dan ain, Semoga Allah menyembuhkanmu. Maka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak membalasnya (dengan cara yang kejam pula) lalu membunuhnya? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Adapun aku telah disembuhkan oleh Allah dan aku membenci menyuruh orang berbuat keji kepada orang yang berbuat kejahatan.”

هَكَذَا أَوْرَدَهُ بِلَا إِسْنَادٍ، وَفِيهِ غَرَابَةٌ، وَفِي بَعْضِهِ نَكَارَةٌ شَدِيدَةٌ، وَلِبَعْضِهِ شواهد مما تقدم، والله أعلم.
Demikianlah hadits yang beliau riwayatkan tanpa sanad, padanya terdapat ghorobah (sesuatu yang asing) dan sebagiannya terdapat perkara yang mungkar, akan tetapi disebagiannya terdapat penguat sebagaimana yang telah lalu. Waallahu a’lam